Tahun 2020 menjadi langkah awalku benar-benar terjun ke dunia kerja. Sebuah dunia yang sebelumnya hanya kulihat dari bangku kuliah dan cerita orang lain. Dan pekerjaan itu, yang terdengar sederhana ketika diucapkan ternyata begitu besar maknanya: menjadi guru.
Dengan bekal selembar surat keterangan lulus, tanpa pengalaman, tanpa pelatihan panjang, aku berdiri di gerbang sekolah membawa satu tekad dan sejuta keraguan. Hari itu menjadi awal pertemuanku dengan murid kelas X IPS 1.
Apa yang terlintas di benakmu ketika mendengar kata IPS?
Bagi sebagian orang mungkin penuh stereotip. Aktif. Ramai. Sulit diatur. Penuh energi. Dan jujur saja, semua bayangan itu membuatku semakin gugup.
Usiaku masih sangat muda saat itu. Bahkan mungkin tidak terpaut jauh dari usia mereka. Namun tiba-tiba aku harus berdiri di depan kelas, bukan sebagai teman, melainkan sebagai wali kelas. Beberapa dari mereka secara fisik terlihat lebih tinggi dan lebih berotot dariku. Saat pertama kali masuk kelas untuk memperkenalkan diri, wajahku pucat, kakiku gemetar, dan napasku terasa tak beraturan. Setiap tarikan terasa berat, seolah seluruh ruangan menatap dan menilai: “Benarkah dia guru kami?”
Itu adalah perkenalan yang sederhana, tetapi bagi diriku terasa seperti berdiri di atas panggung besar tanpa naskah.
Hari-hari pertama dipenuhi rasa canggung. Aku belajar mengatur suara agar tidak terdengar ragu. Belajar menatap mata mereka tanpa menunduk. Belajar bersikap tegas meski hati masih penuh pertanyaan. Tidak ada bekal pengalaman menjadi guru yang ada hanya keberanian yang kupaksa tumbuh setiap pagi sebelum melangkah ke kelas.
Bulan demi bulan berlalu. Rasa takut perlahan berubah menjadi rasa memiliki. Aku mulai memahami bahwa mereka pun sedang berada dalam fase pencarian jati diri. Mereka bukan sekadar siswa dengan berbagai tingkah, tetapi remaja yang sedang bertumbuh, mencoba mengenal dunia, dan kadang tersesat dalam caranya sendiri.
Tentu saja, seperti kebanyakan kelas di SMA lain, ada saja tingkah yang menguji kesabaran. Ada momen ribut di kelas, tugas yang tak dikerjakan, hingga sikap yang membuat dahi berkerut. Di situlah kesabaranku diuji. Ingin rasanya bersikap galak, tetapi aku sadar aku guru baru. Aku masih sering berpikir berkali-kali sebelum bertindak, takut salah langkah, takut terlalu keras, atau justru terlalu lembek.
Namun justru dari kelas itu aku banyak belajar. Mereka mengajarkanku arti kesabaran yang nyata. Menyatukan pikiran lebih dari dua puluh kepala dengan latar belakang dan karakter berbeda bukan perkara mudah. Setiap anak membawa cerita, membawa ego, membawa keunikan. Dan di tengah semua itu, aku belajar menjadi penengah, menjadi pendengar, sekaligus menjadi pengarah.
Lambat laun, hubungan kami tidak hanya sebatas wali kelas dan siswa. Ada rasa kebersamaan yang tumbuh. Kami tertawa bersama, berdiskusi, bahkan terkadang berdebat kecil yang justru mempererat. Di balik segala keramaian dan dinamika mereka, tersimpan kepedulian dan potensi besar yang kadang hanya perlu sedikit dorongan untuk muncul.
Ketika akhirnya mereka menyelesaikan masa sekolahnya, ada ruang kosong yang terasa berbeda. Kelas yang dulu riuh mendadak sunyi. Dan saat itulah aku sadar mereka bukan sekadar murid pertamaku sebagai wali kelas. Mereka adalah bagian penting dari perjalanan hidupku.
Hingga hari ini, kisah tentang menjadi wali kelas X IPS 1 masih sering kuceritakan. Tentang guru muda yang gemetar saat perkenalan. Tentang kelas yang penuh energi. Tentang proses tumbuh yang terjadi bukan hanya pada mereka, tetapi juga pada diriku sendiri.
Karena sejatinya, di tahun 2020 itu, bukan hanya mereka yang belajar di kelas. Aku pun sedang belajar menjadi seorang guru dan menjadi pribadi yang lebih kuat dari sebelumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar