Selasa, 24 Februari 2026

Ketika Guru Juga Belajar Bertumbuh

 

Hai… aku BinSon.

Hari ini aku ingin bercerita tentang sebuah perjalanan yang tak pernah kuduga sebelumnya. Sebuah tugas yang awalnya terasa seperti beban, namun perlahan berubah menjadi panggilan hati. Aku diberi kepercayaan untuk mendampingi adik-adik SMA dalam pembelajaran penguatan karakter melalui mata pelajaran Agama Hindu. Sebuah amanah yang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menantang batinku sendiri.

Karena jika jujur pada diri sendiri, aku pun masih bertanya: sekuat apa sebenarnya karakterku?

Setiap kali aku berdiri di depan kelas dan memandang wajah-wajah mereka, ingatanku melayang jauh ke masa lalu, masa SD dan SMP. Masa di mana pelajaran agama sering kali hanya menjadi jeda di antara pelajaran lain. Kami duduk termenung, bahkan tak jarang tertidur di atas meja. Bukan karena tidak penting, tetapi mungkin karena tak ada yang benar-benar menyalakan api di dalam hati kami. Ada ruang kosong yang tidak terisi, ada pemahaman yang tak sempat bertumbuh. Luka kecil itulah yang kini menjadi pengingat bagiku. Pengingat untuk tidak menjalani tugas ini setengah hati.

Aku tak ingin mereka merasakan kekosongan yang sama.

Maka, diam-diam aku belajar tiga kali lebih keras dari mereka. Mencari materi yang relevan dengan perkembangan zaman, namun tetap berakar kuat pada tradisi dan nilai luhur ajaran Hindu. Aku mencoba menjembatani dunia mereka yang penuh teknologi dan dinamika, dengan ajaran dharma yang telah diwariskan turun-temurun. Tidak mudah, tentu saja. Ada rasa lelah, ada ragu, bahkan ada hari-hari ketika aku merasa tidak cukup mampu. Namun setiap kali itu datang, aku kembali mengingat alasan awalku: jangan biarkan mereka kehilangan makna seperti yang pernah kualami.

Setiap pukul 12 siang, kami memiliki kebiasaan kecil yang kini menjadi rutinitas besar. Aku mengajak mereka berhenti sejenak dari kesibukan, berkumpul di ruang doa, dan melatih diri untuk berdoa bersama. Awalnya terasa canggung. Kadang hanya beberapa yang datang, kadang ruangan penuh. Namun hari demi hari, kebiasaan itu mulai tumbuh menjadi kesadaran. Bukan lagi sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan. Doa siang itu menjadi ruang hening di tengah riuhnya sekolah—tempat kami belajar menundukkan ego dan menguatkan jiwa.

Dan hari ini… hatiku benar-benar tersentuh.

Aku menyaksikan mereka—anak-anak yang dulu mungkin masih ragu dan malu—berdiri di hadapan adik-adik SD. Mereka mengajar, berbagi cerita, menuntun doa, dan memberikan teladan. Ada kesungguhan di mata mereka. Ada cahaya yang dulu mungkin belum tampak. Dalam momen itu, aku merasa seperti melihat pantulan diriku di masa lalu—namun dalam versi yang lebih berani dan lebih siap.

Ternyata, penguatan karakter bukan hanya tentang apa yang kita ajarkan. Ia adalah tentang apa yang kita hidupi setiap hari. Tentang konsistensi kecil yang dilakukan berulang-ulang. Tentang kesediaan untuk belajar bersama, bukan merasa paling tahu.

Hari ini aku belajar satu hal penting: mendampingi mereka sesungguhnya adalah proses mendampingi diriku sendiri. Menguatkan mereka berarti sekaligus menguatkan batinku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"GodZilla X A: Jejak Tahun Pertama yang Tak Terlupa

  "GodZilla X A: Jejak Tahun Pertama yang Tak Terlupa" Tahun ajaran baru 2023 datang menyapa dengan semangat dan harapan. Hiruk p...