Senin, 18 September 2023

TRADISI MANYIPA

     Manyipa merupakan sebutan dalam bahasa Dayak Ngaju atau dikenal dengan menginang, yang merupakan istilah untuk menyebutkan dalam kebiasaan mengunyah beberapa bahan yang dipadu-padankan antara Daun Sirih , Pinang, Kapur, Gambir dan juga Tembakau. Daun sirih yang kerap digunakan yaitu sirih jarenang. 



    Tradisi Manyipa atau menginang merupakan warisan yang ada di Kalimantan Tengah, yang sering dijumpai ketika bertamu dirumah suku Dayak Ngaju. Selain itu Manyipa juga memiliki tradisi yang digunakan sebagai menyambut tamu, ketika berkumpul dengan keluarga, bahkan tidak terlepas pada saat kegiatan acara adat-istiadat. Dalam ajaran tertentu yaitu agama Hindu Kaharingan, manyipa juga bagian dari sebuah sarana upacara. Manyipa juga kerap kita lihat ketika ada upacara kelahiran, kematian, dan sebagainya. 


    Daun Sirih yang digunakan untuk manyipa yaitu sirih jarenang, sirih yang digunakan yaitu sirih yang sudah tua, daunnya sudah keras. 

    Kapur atau dalam bahasa dayak yaitu tuwar. Kapur yang digunakan merupakan kapur yang terbuat dari kulit kerang dara. Kulitnya diambil lalu dibakar sampai warnanya membentuk seperti kapur, setelah itu baru disiram dengan air panas lalu diamkan hingga dingin.

    Pinang atau buah pinang juga hal yang tidak dapat dtinggal dalam manyipa. buah pinang yang digunakan tergantung selera masing-masing, ada yang suka dengan pinang muda dan ada yang suka manyipa dengan pinang tua. 

    Gambir biasa juga bisa diambil daunnya yang sudah tua lalu dikeringkan, ataupun getahnya yang diambil.

    Tembakau juga bagian dari perlengkapan manyipa, tapi tidak semua kalangan suka manyipa dengan tembakau, karena ada rasa pahitnya. Tembakau biasanya ada yang dikunyah langsung, bisa juga diselipkan digusi.

    Manyipa atau dikenal dengan menginang ini sudah lama dikenal dari zaman dulu, karena orang dayak ngaju meyakini bahwa manyipa dapat menguatkan gigi, menyembuhkan luka pada mulut, menghilangkan bau mulut, bahkan manyipa juga diyakini dapat mengikat tali persaudaraan, karena saat manyipa orang akan bercakap satu dengan yang lain sembari menghabiskan sipa didalam mulut.  



Minggu, 03 September 2023

KABUT ASAP BERDAMPAK TERHADAP BUDAYA DAYAK

     Budaya adalah suatu cara hidup atau sebuah kebiasaan yang berkembang dilingkungan atau kehidupan seseorang. Budaya juga dapat dikatakan warisan yang sudah ada dari nenek moyang. 

Budaya juga dapat dikatakan cara berkehidupan seseorang dalam masyarakat, bisa dilihat secara luas ataupun tidak. Jika dilihat dari kehidupan sehari-hari pada masyrakat ada beberapa budaya yang memang diwariskan secara turun temurun. Bisa dilihat dari cara hidup didalam masyarakat ataupun cara hidup bersosial.  

            Kegiatan sosial manusia juga terjadi pada salah satu budaya yang ada di pulau Kalimantan, Budaya juga melekat erat bagi kehidupan masyarakat Dayak. Salah satu budaya yang ada di pelosok Kalimantan yaitu budaya Manugal. Budaya manugal juga dilakukan oleh masyarakat pedalam yang ada di Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur.

Pengertian Manugal

    Manugal merupakan sebuah kegiatan menanam padi tradisional yang dilakukan oleh masyarakat dayak yang menempati Kalimantan tengah, terutama Dayak Ngaju. Manugal ini sudah dilakukan sejak dulu. Kegiatan manugal ini dilakukan pada tanah yang dataran tinggi, agar tidak terendam banjir atau air pasang. Jika padi terendam air maka padi tersebut tidak akan bagus hasilnya bahkan kemungkinan besar padinya tidak dapat kita panen. 

Proses Manugal
    Kegiatan manugal dilakukan pada saat itu setiap setahun sekali, yang mana proses awal dilakukan kegiatan membakar lahan, karena kami sangat mempercayai bahwa lahan yang sudah dibakar  tanahnya akan lebih subur. Setelah selesai dibakar lahanya, maka akan menunggu dalam beberapa minggu hingga kondisi tanah sudah benar-benar siap untuk di tanam.

    Setelah beberapa minggu tanah didiamkan, barulah kita memulai proses manugal. Kegiatan manugal dilakukan dengan menggunakan kayu yang runcing pada bagian ujungnya untuk membuat lubang pada tanah. Manugal berawal dari kata Tugal yang artinya kayu yang berbentuk runcing. Kaum laki-laki yang kebagian untuk manugal, karena membutuhkan tenaga yang kuat ketika melubangi tanah dengan Tugal.

      Ketika proses pelubangan sudah dilakukan, maka akan dilanjutkan dengan memasukan benih padi kedalam lubang yang sudah dibuat. Kegiatan ini disebut dengan Mambenyi. Kegiatan ini dilakukan oleh para wanita, ketika proses Mambenyi  para wanita berjalan mengikuti belakang laki-laki yang manugal untuk memasukan benih padi kedalam lubang tanah. Proses ini dilakukan secara beriringan sampai lahan tersebut terpenuhi. Biasanya menanam padi ini dimulai dari padi ketan.
        Proses manugal akan dikerjakan dalam satu hari dengan luas lahan yang hampir berhektar-hektar, karena dikerjakan secara gotong royong oleh masyarakat kampung. Semua proses juga dilakukan secara gembira, karena orang-orang akan sambil bercanda dan bercerita, serta akan ada Hajamuk yaitu menggosok arang di muka. Hajamuk juga termasuk sesi hiburan untuk menghilangkan rasa lelah
     
Kehidupan Gotong Royong
    Handep hakapat yang artinya saling tolong menolong juga  terjadi dalam kegiatan manugal, karena pada saat proses manugal akan dilakukan secara gotong royong oleh orang-orang kampung atau bisa juga gotong royong dari keluarga besar. Karena lahan yang digunakan untuk menanam padi sangat luas, jadi akan membutuhkan tenaga orang banyak. Setelah manugal selesai dilaksanakan, orang-orang akan berkumpul di Puduk atau  pondok untuk istirahat sambil menikmati kopi dan makan siang.
   
Kabut Asap berdampak terhadap Budaya Dayak 
       Kabut asap pernah menjadi isu yang besar dipulau Kalimantan Tengah, yang mana menyebabkan dampak negatif bagi kesehatan. Isu besar ini pernah terjadi pada tahun 2015 silam sehingga menjadi perhatian khusus bagi masyarakat di Kalteng. 
        Kabut asap juga tidak hanya berdampak pada kesehatan, namun juga berdampak pada Budaya Dayak, terutama budaya Manugal. Semenjak bencana besar itu terjadi, di kampung saya tidak pernah lagi dilakukan proses Manugal, karena dalam kegiatan tersebut kami tidak berani lagi untuk membakar lahan. Sehingga bencana besar tahun 2015 tidak hanya membawa dampak bagi kesehatan, namun juga berdampak terhadap budaya. Delapan tahun berlalu tidak pernah melihat lagi kegiatan Manugal yang dilakukan dikampung saya, apakah ini akan menjadi sebuah cerita dan kenangan saja. Semoga masyarakat tetap bisa mempertahankan budaya ini, tentunya tanpa harus memberikan dampak buruk bagi kesehatan . Tahun 2023 ini mulai lagi bencana kabut asap berdatangan, bahkan sampai pelosok di kampung tempat saya tinggal.  




"GodZilla X A: Jejak Tahun Pertama yang Tak Terlupa

  "GodZilla X A: Jejak Tahun Pertama yang Tak Terlupa" Tahun ajaran baru 2023 datang menyapa dengan semangat dan harapan. Hiruk p...