SMA Swasta Bina Bangsa 01
SMA Swasta Bina Bangsa 01 secara konsisten melaksanakan program keagamaan rutin setiap hari Sabtu sebagai bagian dari penguatan karakter dan spiritualitas siswa, khususnya dalam pemahaman ajaran Hindu Kaharingan. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya strategis sekolah untuk menanamkan nilai-nilai religius. Program keagamaan ini sekaligus menjadi sarana internalisasi Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yaitu: bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat. Melalui kebiasaan-kebiasaan ini, peserta didik diarahkan untuk menjadi generasi yang sehat jasmani, kuat spiritual, dan cerdas sosial.
Pada pelaksanaan kegiatan keagamaan hari ini, para siswa menampilkan hasil analisis mereka terhadap kitab suci Panaturan, yang merupakan kitab utama dalam ajaran agama Hindu Kaharingan. Yang menarik, siswa melakukan analisis ini dengan mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI). Pemanfaatan AI dimaksudkan untuk membantu siswa memahami konteks ajaran dalam Panaturan secara lebih relevan dan aplikatif dengan kehidupan di era modern.
Dengan memadukan pendekatan spiritual dan teknologi, siswa tidak hanya belajar tentang isi kitab Panaturan secara tekstual, tetapi juga mengkaji nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam kaitannya dengan tantangan kehidupan masa kini. Cara ini juga membentuk pola pikir kritis dan kreatif siswa, memperkuat jati diri spiritual mereka, serta memperluas pemahaman terhadap ajaran agama secara kontekstual.
Melalui kegiatan ini, SMA Swasta Bina Bangsa 01 menunjukkan komitmennya dalam mencetak generasi muda yang beriman, berilmu, dan adaptif terhadap perkembangan zaman, tanpa meninggalkan akar budaya dan spiritualitas lokal yang luhur.
Tiga nilai luhur yang terkandung dalam (Pasal 57 Manusia Di Dunia Melaksanakan Upacara Tiwah) dalam kejujuran, gotong royong, dan pelestarian alam.
1.Kejujuran: Nilai kejujuran tercermin dalam (Ayat 4, yang menyatakan bahwa "sebaik-baiknya, jangan sampai terjadi perselisihan dalam pembicaraan.”) Hal ini menunjukkan bahwa kejujuran dan keterbukaan sangat penting dalam melaksanakan upacara Tiwah. Contoh penerapan nilai kejujuran dalam kehidupan masyarakat Dayak Kaharingan adalah dalam proses pengambilan keputusan yang melibatkan seluruh anggota masyarakat.
2.Gotong Royong: Nilai gotong royong tercermin dalam (Ayat 7, yang menyatakan bahwa, "mereka mulai mencari dan mempersiapkan alat-alat bangunan balai, Balai Gandang Garantung".) Hal ini menunjukkan bahwa gotong royong sangat penting dalam melaksanakan upacara Tiwah. Contoh penerapan nilai gotong royong dalam kehidupan masyarakat Dayak Kaharingan adalah dalam proses pembangunan infrastruktur desa.
3.Pelestarian Alam:
Nilai pelestarian alam tercermin dalam (Ayat 28, yang menyatakan bahwa, "mereka semua penyelenggara upacara Tiwah melakukan pantangan (larangan) yang tidak boleh dimakan selama tiga bulan".) Hal ini menunjukkan bahwa pelestarian alam sangat penting dalam melaksanakan upacara Tiwah, karena sebagian besar Fauna dan Flora yang ada di dalam Alam. Contoh penerapan nilai pelestarian alam dalam kehidupan masyarakat Dayak Kaharingan adalah dalam proses pengelolaan hutan dan sumber daya alam.
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
